|| Laman Utama || Asas Syariat Islam || Tulisan Ustaz || Belajar Bahasa Al-Quran || Artikel Pilihan || Audio || Derma ||


الدَّرْسُ الحََادي عَشَرَ
Pelajaran Kesebelas
 

Pada pelajaran kali ini, kita akan mempelajari bentuk negative dari sebuah kalimat (statement). Kalimat yang negative adalah kalimat yang menunjukkan penafian sesuatu. Untuk lebih jelasnya, bandingkan antara dua kalimat –positif dan negative- dibawah ini:

-         Ustaz berada dihadapan murid (kalimat positif)

-         Ustaz tidak/bukan berada di belakang murid (kalimat negatif).

 

Pada contoh diatas, kita perhatikan, bahwa cara untuk mengubah kalimat dari positif menjadi negative hanya dengan menambahkan kata TIDAK atau BUKAN setelah subjek. Di dalam bahasa Arab, cara untuk mengubah kalimat dari positif ke negative yaitu dengan menambah kata yang berarti TIDAK atau BUKAN, namun kata tersebut berubah-ubah bentuk sesuai dengan subjek –orang atau benda- yang dinafikan, apakah subjek tersebut muannats atau muzakkar, orang pertama atau orang kedua, mufrad atau jama`.

 

Contoh:

الأُسْتاَذُ أَمَامَ التِّلْمِيْذِ   Ustaz di hadapan murid (positif) 

لَيْسَ الأُسْتاَذُ وَرَاءَ التِّلْمِيْذِ   Ustaz tidak/bukan di belakang murid (negative)

السَّـبُّوْرَةُ أَمَامَ التِّلْمِيْذِ    Papan tulis (itu) di hadapan murid

لَيْسَتِ السَّـبُّوْرَةُ وَرَاءَ التِّلْمِيْذِ    Papan tulis itu tidak/bukan di belakang murid

Pada contoh diatas, kita perhatikan, bahwa untuk menafikan keberadaan ustaz dibelakang murid, ditambahkan kata لَيْسَ (yang berarti bukan/tidak) sebelum (subjek) الأُسْتاَذُ.  Namun apabila subjek yang dinafikan tersebut bukan الأُسْتاَذُ (yang ianya adalah muzakkar), seperti kata السَّـبُّوْرَةُ (yang ianya adalah muannats), maka kata لَيْسَ berubah menjadi لَيْسَتْ. Demikianlah kata لَيْسَ berubah ubah bentuk sesuai dengan subjeknya.

Untuk lebih jelasnya, marilah kita perhatikan contoh lagi di bawah ini:

عَلِيٌّ تِلْمِيْذٌ      Ali adalah seorang murid (laki-laki)

لَيْسَ عليٌّ أُسْتَاذًا بَلْ تِلْمِيْذٌ          Ali bukan/tidak seorang guru melainkan seorang murid

زَيْنَبُ تِلْمِيْذَةٌ Zainab adalah seorang murid (perempuan)

لَيْسَتْ زَيْنَبُ أُسْتَاذَةً بَلْ تِلْمِيْذَةٌ     Zainab bukan/tidak seorang guru melainkan seorang murid

Setelah memperhatikan contoh diatas, mungkin anda bertanya: Mengapa kata أستاذ yang berada setelah kata عليٌّ dibaca أُسْتَاذًا (dibaca fathatain), begitu juga kata أستاذة yang jatuh setelah kata زَيْنَبُ?

Memang diantara fungsi لَيْسَ (dan bentuknya yang lain) adalah menjadikan keterangan subjeknya sebagai nasab (dibaca fathah/fathatain). Sekali lagi, keterangan dari subjek لَيْسَ dibaca  fathah/fathatain.

Contoh:

لَيْسَ عليٌّ أُسْتَاذًا بَلْ تِلْمِيْذٌ  (benar)

لَيْسَ عليٌّ أُسْتَاذٌ بَلْ تِلْمِيْذٌ  (salah)

لَيْسَتْ زَيْنَبُ أُسْتَاذَةً بَلْ تِلْمِيْذَةٌ  (benar)

لَيْسَتْ زَيْنَبُ أُسْتَاذَةٌ بَلْ تِلْمِيْذَةٌ  (salah)

 

Selanjutnya, marilah kita lihat perubahan kata لَيْسَ jika ia digunakan oleh kata ganti orang pertama (أنا), orang kedua  laki-laki (أَنْتَ) dan orang kedua perempuan(أَنْتِ), orang pertama jama (نحن). Berikut perubahannya beserta contoh-contohnya:

لَيْسَ (هُوَ)

لَيْسَ عليٌّ أُسْتَاذًا بَلْ تِلْمِيْذٌ   

لَيْسَتْ (هِيَ)

لَيْسَتْ زَيْنَبُ أُسْتَاذَةً بَلْ تِلْمِيْذَةٌ

لَسْتُ (أَنَا)

لَسْتُ أُسْتَاذًا بَلْ تِلْمِيْذٌ Saya bukan seorang guru melainkan seorang murid

لَسْتَ (أَنْتَ)

لَسْتَ مُهَنْدِسًا بَلْ نَجَّارٌ Anda bukan seorang juru mesin melainkan seorang tukang kayu

لَسْنَا (نَحْنُ)

   Kami bukan orang kafir melainkan orang mukminَ لَسْناَ كُفَّارًا بَلْ م