Oleh Ustaz Syed Hasan Alatas
Imam Syaf'i menyintai
Allah s.w.t. dengan sepenuh hatinya. Beliau pernah
mengingatkan:
"Bahwa orang yang mengaku sanggup mengumpulkan antara cinta dunia dengan
cinta kepada Allah s.w.t. dalam hatinya adalah dusta belaka". Imam Syafi'i
adalah seorang yang sangat zuhud (cara hidup yang tidak tamak kepada keduniaan,
seperti kemegahan, kekayaan, harta, dan sebagainya). Pernah sekembalinya
beliau dari Yaman dan membawa uang sebanyak sepuluh ribu dirham, sebelumnya
memasuki kota Makkah uang tersebut telah dibagi-bagikan beliau kepada orang
yang memerlukannya.
Pernah terjadi
ketika beliau duduk diatas seekor keledai lalu cambuknya terjatuh ketanah.
Ada orang memungutnya dan menyerahkan kembali kepada Imam Syafi'i, kepada
orang itu telah dihadiahkan uang
sebanyak lima
puluh dinar, sebagai tebusan, bahwa beliau duduk diatas
keledai sedangkan
orang lain berjalan dibawah, beliau menganggap takabbur duduk diatas keledai
sedangkan orang lain berada di bawah.
Pernah juga terjadi, Imam Syafi'i melihat seorang pemuda mengambil udhu kurang sempurna. Anak muda itu ditegur oleh Imam Syafi'i dengan kata-kata:
"Wahai anak! Jika engkau mengambil udhu', lakukanlah dengan baik supaya Allah mengurniakan kepadamu dunia dan akhirat!"
Anak muda itu mengikuti nasihat Imam Syafi'i, setelah itu ia mengejar Imam Syafi dari belakang dan ingin mengetahui siapakah orang yang menasihatinya itu. Imam menoleh kepadanya sambil bertanya, "apa hal"? Anak itu menyatakan kepada Imam Syafi'i keinginannya untuk belajar lebih lanjut dan memberikan apa-apa nasihat kepadanya. Imam Syafi'i mengingatkan sang pemuda dengan kata-kata nasihat selanjutnya:
"Barangsiapa mengenal Allah ia akan jaya. Barang siapa memuliakan agamanya ia akan selamat dari kehinaaan dan bahaya, barang siapa zuhud di dunia pasti ia akan melihat balasan Allah yang mulia."
Lalu imam Syafi'i
bertanya lagi kepada pemuda itu apakah ia
masih memerlukan
tambahan pelajaran, anak muda itu menjawab tolong tambah lagi pengajaran
beliau, maka Imam Syafi'i melanjutkan:
"Barangsiapa selalu mengerjakan tiga pekerjaan ini, maka akan sempurna imannya yaitu:"Barangsiapa yang menyuruh orang lain berbuat baik dan dia sendiri juga berbuat baik. Barang siapa mencegah orang berbuat jahat,dan dia sendiri menjauhkan dirinya dari kejahatan dan barangsiapa yang menjaga batas-batas hukum Allah."
Imam Syafi'i bertanya lagi kepada pemuda itu, apa masih perlu ditambah lagi? Anak muda itu menjawab, "ya".
Imam Syafi'i meneruskan:"Hendaklah engkau zuhud didunia, dan hendaklah engkau suka kepada amalan akhirat. Hendaklah engkau berlaku jujur dalam menjalankan segala perintah Allah, niscaya engkau termasuk orang-orang yang berjaya".
Kemudian anak
muda itu bertanya, siapakah Tuan Guru yang yang sangat bermurah hati itu
yang telah sudi mengajarnya meskipun didalam perjalanan. Lalu orang disekitarnya
mengatakan yang dihadapinya itu
adalah Imam
Syafi'i. Imam Syafi'i adalah seorang Imam yang bersedia
mencurahkan
Ilmunya kepada siapa saja yang memerlukannya dengan tidak suka bermegah-megah.
Semua itu dilakukannya karena Allah, semata -mata.