Oleh Ustaz Syed Hasan Alatas
Dimusim Haji
ramai Muslimin datang ke Madinah untuk menziarahi maqam
Rasulallah s.a.w.Demi
hormat dan kecintaan mereka kepada Rasulallah
s.a.w.Mereka
yang datang itu dari banyak tempat,terutama dari Mesir dan
Iraq.Selesai
menziarahi maqam Nabi s.a.w,mereka juga menziarahi Imam
Malik,dan meminta
supaya kepada mereka diajarkan Kitab Muattha.Imam
Malik menyuruh
Imam Syafi'i supaya membacakan kitab tersebut untuk orang
ramai yang menghadiri
Majlis Ta'lim Imam Malik.
Sudah tentu
dengan senang hati Imam Syafi'i membacakan kitab tersebut
yang telah dihapalnya
keseluruhan isi kitab al-Muaatha.Jamaah yang hadir
sungguh kagum
melihat kelancaran pembacaan kitab Muaatha,yang dibaca
oleh Imam Malik.Hal
ini dengan mudah dilakukan oleh Imam Syaf'i
disebabkan beliau
telah menghapal seluruh isi kitab tersebut.
Selesai majlis
Ilmu itu,Imam Syafi'i pergi menziarahi rombongan yang
datang ketempat
itu.Ketika beliau menziarahi rombongan dari Iraq Imam
Syafi'i melihat
seorang pemuda Iraq sedang menunaikan sholat.Selesai
pemuda itu menunaikan
sholat,lalu ia didekati oleh Imam Syafi'i,dan
beliau ingin
berkenalan dengan tamu muda itu.Imam Syafi'i bertanya
kepada pemuda
itu siapakah Ulama yang paling terkenal dalam hal Ilmu
al-Quran dan
Sunnah di Iraq.Pemuda itu menjawab,bahwa ketika itu Ulama
yang paling
terkenal dalam Ilmu al-Quran dan Sunnah ialah Abu Yusuf dan
Muhammad bin
Hasan.Kedua Ulama yang paling terkenal itu adalah murid
dari Imam Abu
Hanifah.Imam Syafi'i sangat tertarik dan ingin menambah
Ilmu Pengetahuannya
kepada kedua-kedua orang Alim itu.Imam Syafi'i
bertanya bila
pemuda Iraq itu akan berangkat kembali ke Iraq.Pemuda itu
menjawab bahwa
ia akan berangkat keesokan harinya.Imam Syafi'i bergegas
pulang menemui
gurunya Imam Malik dan menceritakan keinginannya ingin
menambah Ilmu
Pengetahuan,terutama berkenaan al-Quran dan Sunnah Nabi
s.a.w,yang telah
menjadi cita-citanya dari sejak semula.
Mendengar hasrat
hati Imam Syafi'i,maka Imam Malik bersetuju dan
mendo'akan semoga
segala hajat Imam Syafi'i dalam cita-citanya menambah
Ilmu Pengetahuan
dari kedua Ulama Agung itu semoga dikabulkan oleh Allah
s.w.t.Imam Malik
sendiri ikut mengantarkan Imam Syafi'i
hingga ke Baqi'.Suatu
hal yang memeranjatkan Imam Syafi'i,dimana Imam
Malik telah
menyediakan unta untuk kenderaan dalam perjalanan Imam
Syafi'i menuju
Kufah Ibu kota Iraq.Disamping itu Imam Malik memberikan
kepada Imam
Syafi'i uang sebanyak lima puluh Dinar.Imam Syafi'i merasa
heran darimana
Imam Malik memperoleh uang tersebut.Setahu Imam Syafi'i
Imam Malik ketika
itu tidak punya uang sebanyak itu.Lalu Imam malik
menceritakan
kepada Imam Syafi'i bahwa malam itu ada seorang yang
bernama Qasim
menziarahi Imam Malik dan menghadiahkan kepada beliau uang
seratus dinar,dan
memohon supaya Imam Malik sudi menerima hadiah
tersebut.Oleh
Imam Malik uang seratus dinar itu dibagi dua,sebanyak lima
puluh dinar
diperuntukkan untuk keperluan Imam Syafi'i.Mulanya Imam
Syafi'i menolak
hadiah uang itu.Beliau tak sampai hati menerima
pemberian dari
gurunya,dan meminta supaya Imam Malik menyimpan uang
tersebut untuk
keperluan Imam Malik.Meskipun demikian Imam malik tetap
mendesak supaya
uang tersebut supaya diterima oleh Imam Syafi'i.
Imam Syafi'i
mengucapkan terimakasih kepada Gurunya,karena pertolongan yang
sangat berharga
didalam perjalanan.
Imam Malik mendo'akan
semoga cita-cita Imam Syafi'i untuk menambah Ilmu
Pengetahuan,dikabulkan
oleh Allah s.w.t.
Imam Malik tidak
berganjak dari tempatnya sambil memperhatikan
keberangkatan
Imam Syafi'i sehingga kafilah Imam Syafi'i hilang dari
pandangan matanya.Disini
dapatlah kita menarik pelajaran,betapa gigihnya
Imam Syafi'i
dalam usahanya untuk menambah Ilmu Pengetahuan meskipun
terpaksa menempuh
perjalanan yang jauh.Juga betapa mesranya hubungan
murid dan gurunya,yang
saling bantu membantu dalam hal-hal yang
menyangkut kepentingan
dunia dan kepentingan akhirat.