|| Laman Utama || Asas Syariat Islam || Tulisan Ustaz || Belajar Bahasa Al-Quran || Artikel Pilihan || Audio || Sumbangan ||


LARANGAN MENCERCA AGAMA LAIN

Ustaz Sayed Hasan Alatas

http://www.shiar-islam.com


Allah berfirman yang maksudnya:

"Janganlah kamu mencerca benda-benda yang mereka sembah selain Allah, karena mereka kelak akan mencerca Allah secara melampaui batas dengan ketiadaan pengetahuan.
Demikianlah Kami memperelokkan pada (pada pandangan) tiap-tiap ummat akan amal perbuatan mereka, kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Ia menerangkan kepada mereka apa yang mereka telah lakukan." (Q.S.al-Anan'am:108)

Islam melarang ummatnya mencerca, atau mencaci penyembahan orang lain. Pergadohan biasanya terjadi karena sifat manusia yang mengikutkan hawa nafsu suka menghina keyakinan orang lain. Islam melarang kita memaksa orang lain agama untuk memeluk Islam.

Islam adalah agama yang benar, kewajibaan kita hanyalah menyampaikan, ataupun memanggil manusia ke jalan yang benar, bukan dengan paksaan, tapi dengan kerelaan. Sebab paksaan akan menimbulkan hal-hal yang tidak baik, dan mereka yang dipaksa itu tidak ikhlas.

Islam mengajak ummat lain supaya sama-sama kembali ke titik pertemuan, kalimah persamaan yaitu menyembah Tuhan yang Maha Esa dan tidak mempersekutukannya dengan apapun juga. Allah berfirman yang bermaksud:

"Ya, Ahli Kitab, marilah bersama-sama berpegang kepada Kalimah yang bersamaan antara kami dan kamu, yaitu kita semua tidak menyembah melainkan Allah, kita tidak akan mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun.Janganlah sebahagian dari kita mengambil sebahagian yang lain sebagai tuhan (untuk dipuja dan didewa-dewakan) selain dari Allah. Kemudian jika mereka (ahli kitab) berpaling (enggan menerimanya) maka katakanlah kepada mereka: ’’Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami orang Islam.”
(Q.S.AIi Imran:64)

Islam melarang kita menyakiti hati orang lain dengan tindakan-tindakan yang kasar, zalim, ataupun perbuatan tercela. Cobalah kita perhatikan kitab suci al-Quranul karim yang begitu memuliakan Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s., dan Nabi-Nabi yang lain. Sifat yang baik ini mestilah pula dimiliki oleh semua pihak. Jadi dengan sifat menghormati keyakinan orang lain, dan tidak menyakitkan hati mereka, Insya-Allah kerukunan Ummat akan menjadi kenyataan.

Ada manusia yang suka sangat menghina mencaci keyakinan orang lain dengan alasan ”kebebasan berbicara”, tapi sayang kebebasan tersebut tidak ikhlas, dan hanya disebabkan oleh perasaan benci dan perkauman, akibatnya telah menimbulkan kemarahan seluruh Ummat Islam diseluruh dunia, malah ada tempat yang telah mengorbankan nyawa disebabkan apa yang mereka tulis itu adalah merupakan pembohongan yang nyata.

Mereka bukan saja telah menghina dan merendahkan seluruh Ummat Islam yang jumlah lebih dari seperlima penduduk dunia, malah mereka juga telah menggambarkan Nabi s.a.w. seorang yang bengis, kejam, gila wanita dan berbagai penghinaan yang lainnya. Sedangkan kenyataanya Nabi Mohammad s.a.w. adalah seorang insan yang penuh dengan kasih sayang kepada semua makhluk dan Nabi s.a.w. seorang yang bertanggung jawab terhadap isterinya. Beliau hidup bersma seorang isteri ia itu Khadijah selama 25 tahun. Nabi s.a.w hanya berkahwin lagi setelah Khadijah wafat dan kebanyakan wanita dinikahinya adalah janda. Tujuan perkahwinan hanyalah untuk membela anak yatim yang ditinggalkan orang tuanya yang shahid di medan perang.

Isterinya yang gadis hanya seorang saja yaitu siti Aisyah, anak Abubakar Assidiq, sahabat dalam perjuangan menegak, mempertahan dan mengembangkan Islam, dan saidina Abubakar juga seorang Khalifah sepeninggalnya Nabi s.a.w.

Islam melarang keras kita menghina Tokoh agama samawi lain, karena mereka juga menjadi Nabi bagi Ummat Islam, seperti Nabi Isa a.s., nabi Musa a.s., nabi Ibrahim a.s. dan lain-lainnya.

Meskipun pengikut mereka telah tersesat jalan dan menjadikan para Nabi sebagai barang sembahan, malah ada yang menjadikan tuhan, untuk disembah, meskipun demikian Islam tetap melarang kita mencaci ataupun mencerca penyembahan agama lain.